Ar Razi, Dokter Islam yang Mengawali Metode Vaksinasi dan Pendirian Rumah Sakit Modern

Nama Tokoh Dunia Islam yang digunakan sebagai Nama Kelas 1 di MIM Plus Leksono_red
Abu Bakar Muhammad bin Zakariya Ar-Razi mungkin nama ini jarang atau tidak pernah kita dengar. Namun, pria yang di sapa dokter A Razi ini merupakan tokoh kedokteran Islam yang mengawali metode vaksinasi dan pendirian rumah sakit.
Robert Thom seorang senima asal barat menggambarkan sosok Ar Razi saat mengobati seorang bayi yang terbaring di sampingnya. Ia mengenakan sorban dan jubah sedangkan tangan kanannya sedang memerika kelopak mata sebelah kiri sang bayi untuk mengetahui apa penyakit yang dideritanya. Setelah terlihat sinar yang terpancar dari bola matanya, Ar Razi tahu bahwa bayi itu sedang mengidap penyakit campak.
Di zaman Ar Razi saat itu sedang terjadi penyakit campak yang menyebabkan banyak orang meninggal. Beliau adalah dokter pertama yang dapat membedakan antara penyakit cacar dengan campak: dua penyakit menular yang berbahaya. Dia pula sebagai dokter menjadi peletak dasar pertama membuat diagnosa penyakit berdasarkan pemeriksaan bola mata.
Dari Musik jadi Dokter
Ar-Razi dilahirkan di Raz, Khurasan (Iran saat ini) pada tahun 864 M. Sejak kecil, ia sangat tertarik dengan musik. Salah satu alat musik yang ia piawai mainkan adalah gambus. Kepiawaiannya bermain gambus cukup membuat pendengarnya terpesona. Namun, saat umurnya tiga puluh tahun, ia menemukan sesuatu yang menakjubkan dari musik.
Dari pengalamannya itu Ar-Razi mulai memerhatikan masalah pengobatan orang sakit. Namun, ia sadar musik bukan satu-satunya cara untuk mengobati segala macam penyakit. Ada hal lain yang harus dilalui sebagai jalan penyembuhan seperti operasi dan lain sebagainya. Barulah ia mencoba mempelajari ilmu kedokteran.
Kehebatan Ilmu Kedokteran Ar Razi
Al Razi pun dengan cepat melampaui gurunya dan menjadi seorang dokter terkenal. Ia diangkat sebagai direktur rumah sakit di kampung halamannya Al Rayy pada masa pemerintahan Mansur bin Ishaq bin Ahmad bin Asad dari Dinasti Saman.
Ketenaran Ar-Razi bahkan mencapai ibu kota Abbasiyah. Dia dipanggil oleh Khalifah Al Muktafi untuk menjadi direktur utama rumah sakit terbesar di Baghdad. Al Razi juga diminta untuk membuat Rumah Sakit baru di kota itu. Ada yang unik dalam memilih lokasi pendirian rumah sakit. Ia meminta beberapa kerat daging, dan daging-daging itu digantungkan pada beberapa tempat di kota Baghdad hingga kemudian dibiarkan sampai membusuk. Di antara daging-daging yang ia sebar itu ternyata ada yang tidak sampai busuk. Maka, menjadi jelas bagi Ar-Razi bahwa rumah sakit harus dibangun di tempat itu.
Apa yang dilakukan Ar-Razi bukan tak beralasan, dialah dokter pertama yang menginsyafi arti udara yang bersih untuk melawan penyakit menular. Rumah sakit yang didirikannya juga memiliki rancangan pemisahan ruangan bagi pasien dengan penyakit menular.
Saat terjadi penyakit cacar dan campak di negerinya. Ar Razi melakukan penelitian dan berhasil menemukan metode vaksinasi untuk mengobati kedua penyakit itu. Metode tersebut populer dan kemudian dipelajari lebih lanjut oleh Edward Jenner M.D., LL.D., F.R.S. yang kini dikenal sebagai penemu vaksinasi pertama di dunia.
Tidak hanya berperan sebagai penemu metode vaksinasi, Ar-Razi juga meletakkan dasar-dasar metode mengenali penyakit melalui analisis urin. Salah satu penemuan fenomenalnya adalah kemoterapi dan tahap awal dalam menangani disfungsi ereksi. Sebagai dokter yang tentu sangat peduli terhadap kebersihan, Ar-Razi bersama Qusta bin Luqa, Ibnu Al Jazzar, dan Al Masihi dapat mengatasi masalah kebersihan di kota yang padat penduduknya dengan membangun sistem pengelolaan sampah perkotaan, yang sebelumnya hanya diserahkan kepada kesadaran masing-masing orang.
Ia juga mengembangkan obat khusus yang efektif untuk penyakit umum seperti batuk, sakit kepala, serta sembelit. Di dalam ensiklopedia kedokteran berjudul, “The Virtuous of Life” (Al-Hawi), Ar-Razi menekankan pentingnya dedikasi dalam bidang kedokteran, serta perbaikan dan pembelajaran terus-menerus. Selanjutnya, ia percaya bahwa praktik kedokteran adalah perbuatan mulia. Keahlian sebagai dokter adalah sebuah amanah yang telah dipercayakan oleh Allah untuk senantiasa digunakan dalam berbuat kebaikan kepada siapa saja yang membutuhkan, bahkan kepada pihak musuh dan orang-orang yang tak mampu. Sehat bukan hanya hak orang kaya, namun juga hak orang miskin. Oleh karena itu, ia terkenal suka membebaskan biaya bagi pasien miskin di rumah sakit Baghdad.
Ar-Razi juga merupakan peletak dasar-dasar ilmu farmasi. Ia menjelaskan sifat-sifat obat, teknik pembuatan dan tata cara meraciknya, manfaatnya, dan usia simpan obat sebelum kadaluarsa (expired date). Beliau membagi obat-obatan menjadi empat bagian, yaitu bahan-bahan bumi (tambang), bahan-bahan nabati (tumbuhan/herbal), bahan-bahan hewani, dan Obat-obatan pecahan.
Sepanjang hidupnya, Ar Razi telah meninggalkan kontribusi yang penting dalam dunia kedokteran. Namun, menjelag akhirn hidupnya ia menderita Glaukoma, yang pada akhirnya membuatnya buta. Ar-Razi meninggal pada 925 dalam usia 60 tahun. Setelah kepergiannya, kontribusinya di berbagai bidang kedokeran membuat namanya semakin dikenal di Timur Tengah hingga di dunia Barat.*

Users Today : 1
Users Yesterday : 0
Users Last 7 days : 1
Users Last 30 days : 4
Users This Month : 1
Users This Year : 88
Total Users : 89
Views Today : 3
Views Yesterday :
Views Last 7 days : 3
Views Last 30 days : 6
Views This Month : 3
Views This Year : 764
Total views : 765
Who's Online : 0